Wednesday, 29 June 2011
CERAMAH AGAMA
http://video-lawak-jenaka.blogspot.com/2010/11/ceramah-lawak-ustaz-saidi-part-1-of-9.html
MENJAGA IKATAN PERNIKAHAN
Hubungan pernikahan memerlukan rasa pengertian yang mendalam antara suami-isteri. Beberapa tips untuk menjaga hubungan itu:
Suami bukan Penguasa
Meskipun Islam menjadikan suami sebagai pemimpin rumah tangga, tapi bukanlah kepemimpinan dictator atau kuku besi. Suami harus melayani isteri dengan baik. Nabi SAW pernah bersabda “Sebaik-baik kalian ialah orang yang paling baik perilakunya terhadap isterinya, dan aku adalah orang yang paling baik dari kalian dalam memperlakukan isteri” (HR At Tirmizi dan dishahihkan oleh Al Albani).
Menjadi Partner (Rakan Karib)
Buatlah keputusan bersama untuk keluarga. Keharmonisan rumah tangga akan lebih terasa jika keputusan yang diambil tidak sepihak dan semua anggota keluarga mengambil bahagian dari pengambilan keputusan tersebut.
Jangan Emosional
Jangan pernah emosional baik secara fisik maupun mental kepada pasangan. Nabi SAW tidak pernah menyakiti isterinya. Nabi SAW pernah bersabda “bagaimana mereka bisa berbuat menjadikan isteri-isteri mereka di siang hari sebagai budak/hamba, dan tidur dengan isteri mereka di malam hari.”
Menjaga Lisan
Hati-hati dengan ucapan yang engkau katakan ketika dalam keadaan sedih atau emosional. Terkadang akan keluar ungkapan yang tidak pernah diucapkan ketika tidak marah.
Tunjukkan Apresiasi
Jangan pernah membuat pasangan merasa bahwa dia tidak cukup baik pada keluarga atau tidak memuaskan dengan apa yang dia lakukan atau perkerjaannya. Nabi SAW bersabda “pada hari kiamat nanti, Allah tidak akan melihat wanita yang tidak berterima kasih kepada suaminya”.
Berkomunikasi
Komunikasi adalah hal yang penting. Komunikasi, komunikasi, komunikasi! adalah kata-kata yang sering diucapkan dalam kaunseling dan memang hal tersebut perlu dilakukan. Suami isteri perlu saling berbicara. Lebih baik jika dalam menghadapi masalah dibicarakan lebih awal dan terbuka.
Banyak Bersyukur
Jangan merasa cemburu dengan orang lain yang hidup lebih baik daripada kita. Allah yang memberikan rezeki. Melihat orang lain yang hidup kurang dari kita akan membuat kita bersyukur. Dan ini akan memberikan banyak manfaat kepada kita.
Berikan Pasangan Waktu untuk Sendiri
Bila pasangan Anda tidak ingin selalu bersama sepanjang waktu, tidak berarti dia tidak mencintai Anda. Orang memerlukan waktu untuk sendiri dengan berbagai alasan. Terkadang mereka ingin membaca, memikirkan masalah peribadi atau hanya ingin rileks. Jangan membuat mereka merasa berdosa ketika ingin sendiri.
Mengakui Kesalahan
Ketika membuat kesalahan, akui. Ketika pasangan membuat sebuah kesalahan, segera maafkan. Jangan membawa kemarahan di waktu tidur.
Jaga Rahasia
Jangan pernah mendiskusikan rahsia-rahsia hubungan suami isteri dengan orang lain, kecuali jika ada alasan syar’i untuk melakukannya. Beberapa suami-isteri, sengaja atau tidak, kerap membicarakan kondisi fisik pasangan mereka kepada orang lain.
Begitulah, pernikahan yang baik memerlukan kesabaran dan keramahan, pengorbanan, empati, cinta, pengertian, kerja keras, saling memaafkan. Semuanya dapat dirangkaikan dalam satu kalimat: selalu memperlakukan pasangan dengan cara seperti kita inginkan orang lain lakukan terhadap kita.[]
PERANAN SUAMI ISTERI DALAM MEMBENTUK KELUARGA BAHAGIA
Firman Allah Subhanahu Wa Taala:
"Maha Suci Allah yang menjadikan kejadian semua berpasangan dari sesuatu yang tumbuh di bumi, dari mereka (manusia) dan dari sesuatu yang mereka tiada mengetahui”. [TMQ: Yaasin (36): 36].
"Di antara tanda-tanda kebesaran-Nya Dia menjadikan untuk kamu pasangan dari jenis kamu sendiri untuk kamu tinggal tenteram di sampingnya dan dijadikan di antara kamu kasih sayang dan belas kasihan. Semuanya itu menjadi tanda-tanda bagi orang-orang yang berfikir" [TMQ: ar-Rum (30): 21].
Apa yang dinyatakan dalam firman Allah Azza wa Jalla di atas tidak akan dapat dicapai seandainya tidak wujud peraturan, hukum dan undang-undang kerana tujuan perkahwinan ialah mengatur pergaulan antara lelaki dan wanita supaya dapat mewujudkan suasana kasih sayang yang memperindahkan kehidupan. Tanpa aturan yang rapi dalam pergaulan makhluk Adam dan Hawa, kepincangan tidak dapat dielakkan. Maka, kerana itu, perkahwinan disyariatkan yang mana di dalamnya ditentukan kewajipan-kewajipan dan peraturan-peraturan yang akan membawa kebahagiaan kepada pasangan yang mematuhinya. Jika peraturan-peraturan itu tidak dipatuhi, sama ada kerana kejahilan atau sengaja mengingkarinya, pasangan itu sentiasa dilanda arus yang menjadikan suasana hidup mereka tidak tenteram.
Dalam Islam, sistem Kekeluargaan Islam adalah satu sistem yang menyusun institusi keluarga, menjelaskan semua urusan di dalamnya, menentu dan mengagihkan bidang tugas, menentukan tanggungjawab anggota keluarga, menjelaskan perkara yang mesti dipatuhi dalam melaksanakan semua tugas dan tanggungjawab. Allah yang mencipta manusia telah mencipta bersamanya fitrah ingin berpasangan seperti makhluk-makhluk lain ciptaan Allah, sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa Taala:
"Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang–pasangan agar kamu mengingati kebesaran Allah ” [TMQ Az Dzariyaat (51): 49 ]
Sejak zaman Nabi Adam Alaihi Salam sehingga zaman Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wa Sallam, syariat yang ditetapkan untuk mengatur hubungan laki-laki dan wanita adalah pernikahan. Oleh itu, mendapat pasangan yang baik merupakan sebuah kebahagian dalam rumah tangga. Apalagi jika pasangan itu merupakan pasangan yang sentiasa taat pada perintah Allah dan RasulNya dalam menjalani kehidupan seharian. Sebagaimana Sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam:
"Ada empat hal yang apabila dianugerahkan kepada seseorang, berarti ia benar-benar terbaik di dunia dan akhirat. Hati yang sentiasa bersyukur, lisan yang sentiasa berdzikir, jiwa yang sentiasa bersabar menghadapi musibah, isteri yang tak pernah mengkhianati suaminya seraya menjaga kehormatan dirinya dan harta suaminya saat ditinggalkan (pergi).” [HR. At Tirmidzi].
Dalam hadis lain, Baginda SAW bersabda; ”Tanda kebahagiaan seorang anak Adam ialah beristerikan wanita solehah” [HR Ad-Dailami].
Bagi wanita pula, mendapat suami yang baik merupakan bahagian dari keberkahan hidup. Memilih suami yang beragama dan berakhlak mulia adalah penolak bencana dari Allah Subhanahu Wa Taala di muka bumi baginya dan keluarganya sebagaimana sabda Nabi Sallallahu Alaihi Wa Sallam:
"Jika datang kepadamu seorang lelaki yang engkau redhai agamanya dan akhlaknya, maka bernikahlah dengannya, jika tidak maka akan muncul fitnah di bumi dan kerosakan.”
Namun begitu, ketenangan dan kebahagiaan dalam rumahtangga bukanlah merupakan sebuah hadiah yang diberikan kepada suami isteri. Ia memerlukan perjuangan dan proses yang memakan waktu. Lama ataupun cepat pasangan suami isteri itu mendapat kebahagiaan bergantung kepada peranan yang dimainkan oleh pasangan tersebut dalam mengatur urusan rumah tangganya. Untuk itu ada beberapa perkara yang jika diamalkan Insya’ Allah boleh membantu pasangan suami isteri mencapai atau menciptakan suasana yang menyenangkan dalam rumah tangga.
Peranan dan Tanggungjawab Suami Dalam Rumah Tangga
Syariat Islam telah menjelaskan tentang tanggungjawab seorang suami terhadap isterinya. Allah Subhanahu Wa Taala telah memerintahkan agar seorang suami melayani isterinya dengan penuh keakraban dan kasih sayang. Kewajiban suami terhadap isteri bukanlah sekadar memenuhi hak isteri berupa mahar dan nafkah. Namun lebih dari itu, seorang suami tidak boleh membuat isterinya cemburu dengan menampakkan kecenderungan kepada wanita lain selain kepada isterinya itu.
Rasulullah telah berpesan kepada kaum lelaki dalam urusan kaum wanita sebagaimana sabda Rasulullah dalam khutbahnya ketika Haji Wada’ sebagai berikut:
”Hendaklah kalian bertakwa kepada Allah dalam urusan kaum wanita kerana kalian telah mengambilnya sebagai amanat daripada Allah, dan kalianpun telah menjadikan kehormatan mereka halal dengan kalimat Allah. Kalian mempunyai hak atas isteri-isteri kalian agar mereka tidak memasukkan ke tempat tidur kalian salah seorang yang kalian benci. Jika mereka melakukan tindakan demikian, pukullah mereka dengan pukulan yang tidak sampai membahayakan. Sebaliknya, mereka pun berhak untuk mendapatkan rezeki dan pakaian mereka dengan cara yang makruf.” [HR Muslim].
Dalam riwayat lain, baginda bersabda:
”Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik perlakuannya terhadap keluarganya. Sesungguhnya aku sendiri adalah orang yang paling baik di antara kalian dalam melayani keluargaku”
Ibn. Majah menuturkan bahawa Nabi Sallallahu Alaihi Wa Sallam pernah bersabda:
"Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik perlakuannya terhadap isteri-isterinya”
Meskipun seorang suami mempunyai hak kepimpinan terhadap isterinya sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wa Taala.
”Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita kerana Allah telah melebihkan atas sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita) dan kerana mereka (laki-laki) menafkahkan sebahagian harta mereka.” [TMQ an-Nisa’(4):34].
Di sini menjelaskan bahawa posisi suami sebagai penanggungjawab dan kepimpinannya atas isteri di dalam rumah bukan bererti menjadikan dirinya sebagai orang yang boleh bertindak sesuka hati di dalam rumah atau seperti seorang penguasa yang tidak dapat dilanggar perintahnya. Akan tetapi, kepimpinan suami di dalam rumah hanya berlaku dalam pengurusan dan pengelolaan urusan-urusan rumah tangga sahaja, bukan dalam hal kekuasaan dan hak memerintah di dalam rumah tangga. Oleh itu seorang isteri berhak menjawab ucapan suaminya, berbincang dengannya, dan membahas apa saja yang dikatakannya. Sebab pada dasarnya, keduanya adalah dua orang sahabat, bukan pihak yang memerintah dan yang diperintah.
Sekalipun kehidupan suami isteri dijalinkan dalam keadaan persahabatan, kemungkinan pada mereka terjadi perbezaan pendapat dalam pengaturan rumah tangga. Untuk mengatasi persoalan tersebut, tentu diperlukan pemimpin yang menjadi pemegang keputusan dan kata akhir. Kerana ayat di atas yang menetapkan suami menjadi pemimpinnya, maka keputusan suami harus ditaati oleh isterinya.
Kewajiban suami dalam memberi nafkah dari sebahagian harta yang mereka miliki kepada isterinya, sebahagian fuqaha membolehkan wanita melakukan fasakh nikah tatkala suaminya tidak memberikan nafkah kepadanya. Kerana itu, jika suami tidak memberikan nafkah, kedudukannya sebagai pemimpin dalam rumah tangga boleh digugat sehingga isteri berhak mengajukan fasakh. Demikianlah pendapat ulama dari mazhab Maliki dan Syafie.
Peranan dan Tanggung jawab Isteri Dalam Rumah Tangga
Setelah menjelaskan kedudukan suami beserta tanggung jawabnya, Allah Subhanahu wa Taala menerangkan pula kedudukan wanita beserta tanggungjawab dan kewajibannya. Wanita solehah adalah wanita yang taat kepada Allah dan taat kepada suaminya ketika suaminya ada di sampingnya mahupun tiada di sisinya. Ia sentiasa menjaga kehormatannya serta rumah, harta benda dan kehormatan suaminya serta selalu membahagiakan suaminya, sebagaimana sabda Rasulullah: "(Sebaik-baik wanita adalah) yang membahagiakan suaminya jika ia memandangnya, yang sentiasa mentaati suaminya jika ia memerintahnya, dan yang tidak bermaksiat terhadap suaminya atas dirinya dan hartanya dengan sesuatu yang dibenci suaminya.” [HR an-Nasa’i].
Selain itu, dalam urusan rumah tangga, seorang isteri wajib melayani suaminya seperti memasak, membersihkan rumah, menyediakan minuman jika di minta, menyiapkan makanan serta melayani suaminya iaitu dalam segala urusan yang berkaitan dengan kehidupan rumah tangganya secara mutlak.
Ringkasnya, segala sesuatu yang mesti dilakukan dalam rumah tangga menjadi kewajiban wanita untuk mengerjakannya, apapun jenis pekerjaannya. Sebaliknya, segala sesuatu yang perlu dilakukan di luar rumah menjadi kewajipan suami untuk mengerjakannya. Demikianlah sebagaimana hadis dari Nabi Sallallahu Alaihi Wa Sallam. Berkaitan dengan kisah Ali dan Fatimah sebagai berikut: ”Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam telah mewajibkan puterinya, Fatimah, untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di dalam rumah, sedangkan Ali ditugaskan untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan di luar rumah”.
Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam juga telah memerintahkan isteri-isterinya untuk bekerja melayani baginda. Contohnya, baginda sering berkata: "Aisyah, tolong ambilkan makananku," Aisyah tolong ambilkan aku pisau, lalu asahlah dengan batu” dan sebagainya.
Dalam riwayat lain pula: Fatimah pernah datang kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam. Dia mengadu bahawa dirinya tidak dapat berehat sekaligus meminta kepada beliau seorang pembantu yang dapat meringankan pekerjaannya.
Semua ini menunjukkan bahawa usaha melayani suami dan mengurus rumah tangga merupakan salah satu kewajiban diantara berbagai kewajiban seorang isteri yang harus dilaksanakan. Namun demikian, kewajipan itu ditunaikan sesuai dengan kemampuannya. Jika pekerjaannya amat banyak, maka suami wajib menyediakan pembantu rumah, jika tidak terlalu banyak pekerjaan yang perlu dilakukan, maka suami tidak wajib menyediakan pembantu rumah.
Disamping tugasnya sebagai suri rumahtangga, seorang isteri juga mempunyai peranan penting sebagai seorang ibu. Tugas keibuan dalam Islam bukanlah sekadar menjadi Isteri, mengandung, melahirkan serta mengasuh anak, kerana sifat yang sedemikian juga ada pada haiwan. Keibuan dalam Islam ialah mempunyai jiwa dan perasaan sebagai ibu yang bersifat penyayang, lemah lembut, tidak mementingkan diri sendiri, kasih terhadap anak-anak, bahkan sanggup berkorban dan bersusah payah melaksanakan kerja-kerja dalam urusan rumahtangga.
Keibuan juga bererti mengukuhkan kedudukan keluarga yang menjadi asas generasi Islam dalam lingkungan keluarga. Peranan keibuan adalah amat penting kerana ibu adalah di antara orang yang akan mencorak dan membentuk keperibadian anak-anaknya, sebagaimana maksud dalam sebuah hadis: "Tidak ada seorang yang lahir melainkan menurut fitrahnya, maka kedua ibu bapanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” [HR Bukhari dan Muslim].
Seandainya ibu-ibu Muslimah tidak memainkan peranan mereka yang sebenar dalam membentuk dan memberikan pendidikan terhadap anak-anak mereka, maka kesannya akan dapat dilihat sama ada di dunia mahupun di akhirat. Amat malanglah ibu-ibu yang sudahlah di dunia mereka bersusah payah memelihara anak-anak mereka itu, di akhirat pula terpaksa dipertanggungjawabkan kerana kelalaian mereka memberikan pendidikan yang sempurna.
Para ibu perlulah mengetahui bahawa anak-anak sebenarnya mengharapkan asuhan dan didikan yang sempurna daripada seorang ibu. Ibu lebih rapat hubungannya dengan anak-anak daripada seorang bapa. Bagaimanakah asuhan dan didikan yang sempurna dapat diberikan sekiranya ibu-ibu sentiasa sibuk berperanan di luar urusan rumahtangga mereka?
Adalah menjadi tugas seorang ibu Muslimah apabila anaknya sudah pandai bertutur, mengajarkannya ucapan syahadat dan ucapan-ucapan lain yang baik-baik yang banyak dianjurkan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam di dalam hadisnya.
Demikian pula apabila anak-anak sudah berumur tujuh tahun, ibu-ibu hendaklah menggesa anak-anak mereka menunaikan sembahyang. Jika dia cuai menunaikan sembahyang apabila berumur 10 tahun, maka dia boleh dipukul. Bagaimanapun mendidik anak-anak mengerjakan ibadah hendaklah disertai dengan keterangan yang jelas supaya mereka mengetahui serta memahami tujuan sebenar ibadah yang mereka laksanakan.
Allah Subhanahu wa Taala berfirman: "Perintahkanlah keluargamu mendirikan solat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” [TMQ Thaha (20):132]
Sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam: "Jika seorang anak telah mengetahui (membezakan) tangan kanannya dari tangan kirinya maka latihlah dia menunaikan solat" [HR Thabrani].
Sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam : "Ajarilah anak-anak solat (sejak) usia 7 tahun dan pukullah dia (untuk mendidiknya) pada usia 10 tahun.” [HR Abu Daud, at Tirmidzi, al-Baihaqi dan al-Hakim].
Sungguhpun begitu, seorang ibu Muslimah perlulah memahami bahawa qarinah atau indikasi yang ditunjukkan melalui perintah melaksanakan solat bukanlah hanya hukum tentang solat semata-mata, sebaliknya seawal usia 7 tahun yang mana anak-anak telah mumayyiz, mereka hendaklah juga diperkenalkan kepada lain-lain hukum seperti menutup aurat di hadapan bukan mahram kepada anak-anak perempuan, hukum tentang pergaulan lelaki-wanita, menuntut ilmu dsb.
Khatimah
Dalam sesebuah institusi keluarga, suami isteri perlulah bersama-sama memikul tanggungjawab supaya pembentukan keluarga bahagia akan tercapai. Dalam hal yang demikian, terdapat beberapa tanggungjawab yang dipikul bersama oleh suami isteri. Kedua-duanya perlulah mendalami dan memahami peranan masing-masing dalam sebuah rumahtangga. Allah Subhanahu Wa Taala telah menetapkan suami sebagai pemimpin manakala isteri sebagai pengurus rumahtangga. Apapun tugas yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu Wa Taala itu, ianya merupakan tanggungjawab yang wajib dilaksanakan.
Demikian pula laki-laki dan wanita, mereka sememangnya sama-sama manusia. Namun masing-masing memiliki sifat yang berbeza. Kerana sifat yang berbeza itulah masing-masing diberi hukum, tugas dan tanggungjawab. Wajar jika laki-laki mendapat tugas sebagai pemimpin bagi wanita kerana Allah Subhanahu Wa Taala telah memberikan kelebihan kepadanya dalam perkara tersebut. Wajar pula jika wanita mendapat tugas dan tanggungjawab sebagai al-umm wa rabbat al-bayt (ibu dan pengatur rumah) kerana wanita memang diberi kelebihan dan keistimewaan dalam perkara tersebut. Oleh sebab itu, jika aturan tentang pergaulan suami isteri ini dilaksanakan, keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah akan tercipta. Siapa yang tidak menginginkannya?
Sabda Nabi Sallallahu Alaihi Wa Sallam: “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan dipertanggungjawabkan terhadap pimpinannya, seorang pemimpin Negara adalah pemimpin kepada rakyatnya dan dia bertanggungjawab terhadap mereka, seorang suami adalah pemimpin keluarganya dan dia bertanggungjawab terhadap pimpinannya, seorang wanita adalah pemimpin dan dia bertanggungjawab terhadap rumahtangga suaminya dan dia bertanggungjawab terhadap pimpinannya”.
Walau bagaimanapun, satu perkara penting yang perlu diketahui oleh suami dan juga isteri ialah memahami bahawasanya kehidupan di dunia ini bukanlah semata-mata meraih kebahagiaan dalam rumahtangga sahaja kerana makna kebahagiaan sejati bagi seorang Muslim adalah meraih keredhaan Allah dalam setiap perbuatan dan aspek kehidupan yang dilaluinya, di dalam dan di luar rumahtangga. Ini bermakna kedua-dua suami-isteri mestilah memahami bahawa selain berusaha memainkan peranan untuk meraih kebahagiaan dalam rumahtangga, Allah juga memerintahkan umat Islam sama ada lelaki atau wanita untuk melaksanakan perintahNya dalam aspek lain seperti menuntut dan mendalami ilmu agama, melaksanakan amar makruf nahi mungkar, menjalankan aktiviti dakwah dsb selain ibadah khusus dan hukum-hakam tentang makanan dan pakaian. Ringkasnya, disamping memainkan peranan masing-masing dalam kehidupan berumahtangga, tanggungjawab dan kewajipan sebagai Muslim juga hendaklah dilakukan supaya pada akhirnya, meraih keredhaan Allah menjadi matlamat utama, bukan hanya untuk memuaskan hati pasangan masing-masing sahaja. Wallahu’ alam bishawab.
AGAR SUAMI MAKIN CINTA
Agar Suami Makin Cinta
Pengantar
Pelaku utama dalam kehidupan rumah tangga adalah suami dan isteri. Keduanya laksana dua sahabat dan anggota team yang harus kompak dalam membina biduk rumah tangga. Agar solid, antara suami dan isteri harus bisa melakukan fungsi dan peranannya masing-masing sesuai dengan tugas dan kewajibannya. Satu hal yang juga penting adalah bagaimana cinta antara keduanya bisa terus tumbuh dengan subur. Sebab, cinta akan membuat kehidupan keduanya menjadi lebih indah hingga terwujud keluarga yang sakînah mawadah wa rahmah, yang merupakan tujuan dibangunnya sebuah rumah tangga.
Dan di antara tanda-tanda yang membuktikan kekuasaanNya dan rahmatNya, Bahawa ia menciptakan untuk kamu (Wahai kaum lelaki), isteri-isteri dari jenis kamu sendiri, supaya kamu bersenang hati dan hidup mesra dengannya, dan dijadikannya di antara kamu (suami isteri) perasaan kasih sayang dan belas kasihan. Sesungguhnya yang demikian itu mengandungi keterangan-keterangan (yang menimbulkan kesedaran) bagi orang-orang yang berfikir. (QS ar-Rum [30]: 21).
Cinta Itu Fitrah
Pada diri manusia terdapat dua potensi (dorongan) hidup yang senantiasa mendorong dirinya untuk melakukan kegiatan dan menuntut pemuasan. Pertama: kebutuhan jasmani (hâjah al-'udhawiyah) seperti makan, minum, dan membuang hajat. Kedua: naluri (gharîzah) yang menuntut adanya pemenuhan saja. Salah satu dari naluri tersebut adalah gharîzah an-nau' (naluri untuk mempertahankan spesies manusia), yang salah satu perwujudannya adalah munculnya rasa cinta/kasih-sayang, antara lain di antara suami-isteri.
Berbeda dengan dorongan kebutuhan jasmani yang bersifat internal, misalnya orang ingin makan karena rasa lapar dari dalam dirinya, dorongan naluri baru akan muncul kalau ada rangsangan dari luar. Begitupun dengan cinta. Cinta antara suami-isteri harus selalu dirangsang dan ditumbuhkan agar kehidupan rumah tangga berjalan dengan harmonis.
Sepuluh Kiat Agar Suami Makin Cinta
1. Taat.
Suami dengan segala kelebihannya telah dijadikan Allah sebagai pemimpin bagi wanita. Keluarga ibarat sebuah kapal, maka mestilah ada yang menakhodainya. Itulah suami yang yang akan membawanya ke mana kapal berlabuh. Karena itu, isteri shalihah harus senantiasa mematuhi suaminya, kecuali dalam maksiat kepada Allah. Rasulullah saw. bersabda:
Seandainya aku memerintahkan agar seseorang bersujud kepada orang lain maka pasti (yang paling dulu) aku memerintahkan agar seorang wanita (isteri) bersujud kepada para suaminya. (HR at-Tirmidzi).
2. Pandai menjaga amanatnya sebagai ibu (umm[un]).
Tugas utama seorang ibu adalah merawat (baik dari sisi fisik maupun psikologisnya), membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Tugas ini tidak boleh diabaikan. Agar suami senang, anak harus selalu terawat kebersihan-nya, juga kondisi psikologisnya. Akan sangat tidak enak tentunya kalau suami pulang ke rumah melihat anak-anak yang masih tampak kotor karena belum mandi sore, atau menangis tidak mau berhenti hanya karena ibunya tidak peka melihat keinginan anak. Kegesitan dan kecermatan ibu ketika pagi hari harus menyiapkan anak-anak yang akan berangkat sekolah juga akan membuat suasana rumah terasa lebih segar. Dengan begitu, suami juga akan merasa tenang ketika akan memulai aktivitasnya.
3. Pandai menjaga amanat sebagai pengatur rumah tangga (rabbah al-bayt).
Rumah akan sangat terasa nyaman jika senantiasa tampak tertata, teratur dan bersih. Fisik rumah tentu bukan menjadi syarat utama. Yang penting, bagaimana isteri bisa mengatur dan menjaga kebersihan rumah sehingga semua anggota keluarga, termasuk suami, senang tinggal di dalamnya.
4. Pandai menjaga diri, kehormatan dan harta suami.
Ketika suami tidak di rumah, isteri shalihah harus pandai menjaga diri dan harta suami dengan sebaik-baiknya. Ia tidak sembarangan menerima tamu di rumah atau melakukan aktivitas yang tidak ada manfaatnya, seperti bersembang dengan tetangga yang kadang secara tidak sengaja akan bercerita tentang keburukan suami atau keluarga.
Rasulullah saw. bersabda:
Tidak ada sesuatu yang berfaedah bagi seorang Mukmin setelah ketakwaan yang lebih baik baginya daripada seorang isteri shalihah, yakni...yang jika suaminya tidak ada di sisinya, ia menjaga diri dan harta suaminya. (HR Ibn Majah).
5. Berilah penghargaan dan kejutan.
Semua orang, tak terkecuali suami, sangat senang jika dihargai. Penghargaan tidak selalu dalam wujud materi, tetapi bisa pujian atau pelukan mesra. Cobalah sekali-kali bawakan oleh-oleh kesukaannya saat dia dengan rela menjaga anak-anak ketika isteri harus keluar rumah untuk berdakwah; kirimkan sms penuh kebanggaan ketika suami selesai mengisi dengan sukses sebuah acara sebelum peserta memberikan applause; atau berilah hadiah spesial pada saat-saat tertentu.
6. Menyenangkan jika dipandang.
Nabi Muhammad saw. bersabda:
Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah. (HR Muslim).
Tidak ada sesuatu yang berfaedah bagi seorang Mukmin setelah ketakwaan yang lebih baik baginya daripada seorang isteri shalihah, yakni yang jika suami memerintahnya, ia menaatinya; jika suaminya memandangnya, ia membuat suaminya bahagia... (HR Ibn Majah).
Perempuan cantik memang enak untuk dipandang. Namun, kecantikan fisik bukan segalanya, karena istiri semakin lama juga akan semakin tua. Buatlah suami agar selalu merasa senang dan betah di rumah dengan memberi kesetiaan yang ikhlas, senyuman yang tulus dan menawan, serta cinta dan pengorbanan. Panggillah dengan panggilan yang paling dia sukai.
7. Bertutur kata lembut.
Saling menasihati antar suami-isteri harus selalu dilakukan. Bagaimanapun, tidak ada manusia yang sempurna. Siapa pun suatu saat bisa melakukan kesalahan. Karena itu, penting isteri untuk tidak lupa mengingatkan suami ketika dia alpa. Lakukanlah semua itu dengan penuh kelembutan. Pilihlah kata-kata yang baik dan santun selama berdialog. Rendahkan nada bicara dan usahakan dengan intonasi yang terkontrol. Kata-kata yang baik, jika disampaikan dengan cara yang lembut, akan melahirkan kekuatan yang besar. Semua itu, insya Allah, akan bisa menggerakkan jiwa yang lemah, membangkitkan semangat orang yang putus asa, dan menenteramkan hati yang gelisah. Ia juga akan meluluhkan sikap yang kaku sehingga nasihat yang semula tidak bisa masuk berubah menjadi nasihat yang menggugah dan menyadarkan.
8. Tidak membebani, tetapi membantu mencari solusi.
Kehidupan berumah tangga tentu tidak lepas dari persoalan. Sebagai isteri shalihah, ketika persoalan itu datang, bantulah suami untuk mencari solusi. Kalau tidak mampu, jangan menambah persoalan baru atau bahkan menuntut sesuatu di luar batas kemampuan-nya. Persoalan-persoalan kecil yang mampu diselesaikannya sendiri dan tidak memerlukan izin suami, selesaikanlah dengan segera. Jadikanlah diri isteri menjadi tempat yang nyaman buat suami untuk mengadu dan menumpahkan kepenatan setelah seharian keluar rumah untuk mencari rezeki atau berdakwah. Biasakan untuk selalu bersyukur dengan semua nikmat yang didapat, bersabar ketika menghadapi kesulitan, tawakal jika mempunyai rencana, dan bermusyawarah dalam menyelesaikan persoalan.
9. Pandai melayani suami.
Urusan perempuan memang tidak hanya seputar sumur, dapur dan kasur. Namun, isterilah yang bertanggung jawab untuk ketiga urusan itu. Bisa saja ada pembantu yang memasak, tetapi menyiapkan makan, minum dan segala keperluan suami di dalam rumah merupakan kewajiban isteri. Lakukan semua itu dengan ikhlas dan penuh rasa cinta. Tentu akan berbeda rasanya teh manis buatan isteri tercinta dibandingkan dengan buatan pembantu. Insya Allah, akan terasa lebih nikmat. Jadilah isteri yang selalu siap "melayani" suami dan pandai membuatnya "berghairah".
10. Jadilah pemaaf dan ringan berterima kasih.
Manusia selamanya tetap manusia, yang memiliki sifat pelupa dan khilaf. Wajar jika suami atau isteri sekali waktu berbuat keliru. Karena itu, diperlukan upaya saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran agar tetap di jalan Allah. Jadilah isteri yang pemaaf dan tahu berterima kasih.
Wallâhu a'lam bi ash-shawâb.
Subscribe to:
Posts (Atom)